<< NTB GEMILANG >> << "MAJA LABO DAHU" >>

Kamis, 28 Mei 2020

SIKAP PENGUSAHA DI MASA KRISIS



By : ALDO HAZ KAFFA
         Pada kondisi saat ini sebagian besar orang merasa galau, hati menjadi sempit, karena manusia hanya melihat pada kesusahan. Mereka lupa dengan nikmat yang Allah berikan. Hal ini menyebabkan banyak orang yang stres, putus asa, dan bunuh diri. Padahal, Allah mengatakan, seorang hamba tidak akan bisa menghitung nikmat yang diberikan kepadanya.

        Dalam Al-Qur'an surah An-Nahl ayat 18 disebutkan, "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Sejumlah pengusaha memiliki ambisi yang berbeda dalam masa krisis. Pedagang yang jujur, maka akan dibangkitkan bersama dengan Nabi.
        Tapi kadangkala ada yang punya ambisi dunia. Ustadz, di bawah ana ada 100 pekerja, seakan berempati, tapi kalau mau jujur engkau mau harta, kita perlu jujur apa engkau berjuang untuk mereka? pengusaha harus sadar.

       Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab radhiyallahuanhu 18 Hijriyah, terjadi musim kemarau panjang selama delapan bulan. Tidak ada setetes air hujan yang turun, tanaman menghitam. Umar pun berusaha memperkecil pengeluaran yang ia miliki. Umar hanya mengonsumsi sesuatu yang sedikit, terkadang ia memakan minyak, kemudian gandum yang sudah tidak bagus. Saat perutnya mulai berbunyi, maka ia menekan perutnya.
Kalau pengusaha benar-benar memikirkan anak buahnya, maka dia harus berkorban. Apakah seperti itu pengusaha? Dia belum susah.

               Tidak ada segala hal yang terjadi melainkan atas izin Allah. Hal tersebut tertulis dalam surah Al-Hadid ayat 22-24.
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah".
"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri".
"(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

               Semua sudah ditetapkan, apa yang kita hadapi sekarang sudah tertulis di lauhul mahfuzh. Allah menceritakan itu supaya kita tidak terlalu sedih, ada proyek tau-tau kita gak dapet agar kita tidak terlalu sedih, atau ketika mendapatkan kenikmatan jangan bangga.
Allah telah mengingatkan hambanya ketika mendapatkan keberuntungan, itu bukan karena kecerdasan atau keuletan yang dimiliki. Melainkan hal tersebut karena Allah yang memberikan semuanya. Orang yang memiliki keuletan pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika ditimpa musibah.
Terus bagaimana pengusaha, rizki masih ada? Rizki masih ada, kalau habis, Anda terkena Covid-19 lalu meninggal. Tapi kalau Anda masih bernafas, tangan masih bisa bergerak, Anda masih mendapatkan rizki.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surah Adz-Dzaariyaat ayat 22, "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu".

            Dalam surah An-Nur ayat 37, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang". Laki-laki sebenarnya tidak dilarang berniaga, merantau, tafadhol. Tapi kata Allah diingatkan tuh laki-laki spesial tatkala perdagangan mereka tidak membuat mereka lupa dari Allah, menjawab panggilan masjid.
Sebagai seorang hamba maka muslim senantiasa berdzikir, membayar zakat, ada ketakutan di hati mereka, tapi bukan takut akan mendapatkan kerugian. Namun mereka takut pada saat hari semua makhluk dibangkitkan.

             Pada saat pandemi Covid-19 ini dapat menjadi titik balik seseorang untuk dapat mengingat Allah. Terkadang orang-orang lebih sibuk dengan dunia, namun pada saat ini mereka bisa menjadi lebih dekat dengan Allah.(*Aldo)


Think big start small act now  Join the movement be the solution



5 TINGKATAN ENTREPRENEURSHIP



            Pernahkah Anda mendengar bahwa untuk menjadi Entrepreneur kita harus menguasai 5 tingkatan Entrepreneurship?
Saat Anda mendengar kata "Entrepreneur" banyak orang berpendapat bahwa artinya adalah seorang pemilik perusahaan. Namun ternyata pemiliki perusahaan sendiri merupakan tingkat/level ketiga dari 5 tingkatan Entreprenuership.
Entrepreneur sejati mampu menciptakan kekayaan dengan atau tanpa memiliki sebuah perusahaan. Namun tentunya membutuhkan waktu dan proses untuk menjadi seorang Entrepreneur sejati.
Berikut adalah 5 tingkatan Entrepreneurship tersebut.

✔ Tingkat 1

     SELF EMPLOYMENT

         

Level pertama sebagai entrepreneur ditandai dengan mempekerjakan diri sendiri. Semua pekerjaan di-handle sendiri. Mereka berprinsip: Jika bisa diselesaikan sendiri buat apa dibantu orang lain?

✔ Tingkat 2


        MANAJER

      Sekarang sudah mulai memiliki beberapa karyawan, pekerjaan sudah mulai didelegasikan dan sistem pun mulai dirintis. Sebagian besar pebisnis di Indonesia berada pada level 2 ini. Alasannya karena ingin terus terlibat dengan bisnisnya, ada ikatan emosional, belum bisa mempercayai bawahan dan masih banyak alasan lain lagi.

✔ Tingkat 3


       ➧ PEMILIK PERUSAHAAN

        Pada tingkat ini Anda sudah bisa bersantai, karena semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan. Bisnis Anda memiliki sistem yang berjalan baik. Memiliki General Manager (GM) dan tim kerja yang bagus. Sudah tidak “menghasilkan uang”, tetapi “menerima LABA”. Tugas menghasilkan uang adalah tanggungjawab GM dan seluruh bawahannya.

✔ Tingkat 4


        INVESTOR

       Jika pada level sebelumnya kita masih fokus menjual barang dan jasa, maka pada level ini kita sudah melakukan JUAL BELI BISNIS. Prinsipnya adalah: Beli Bisnis, Kembangkan, Jual. Menghasilkan uang dengan uang. Fokus menggalang dana dari investor lain, setelah terkumpul banyak maka akan kita belikan sebuah perusahaan. Pada saat perusahaan tersebut berkembang pesat dan semua persyaratannya terpenuhi, maka JUAL KEMBALI. Keuntungan yang didapat bisa jadi sangat besar hingga ratusan kali dari modal awal yang kita keluarkan.

✔ Tingkat 5

       ➧ ENTREPRENEUR
        Membangun bisnis yang dapat dijual ke publik. Pengusaha kelas dunia seperti Bill Gates dengan Microsoft-nya dan Mack Zuckerberg dengan Facebook-nya, memperoleh kekayaan super besar bukan karena menjual produk namun mereka memperolehnya dari menjual perusahaan (saham) kepada masyarakat. Mindset: “Menciptakan sesuatu dari ketiadaan.” Pendapatan terbesar kita adalah dari nilai perusahaan yang terus tumbuh, bukan hanya dilihat dari penjualan dan laba yang didapat.

Think big start small act now
Join the movement be the solution